Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat as shidiq aqiqah

Pelaku poligami sering diserang dengan pernyataan “mengikuti sunnah nabi atau karena nafsu syahwat” ?

Tuduhan seperti ini sesungguhnya bukan fenomena baru. Sebab banyak kaum orientalis yang mengalamatkan tuduhan itu kepada nabi Muhammad. Namun akhirnya banyak orientalis semisal Karel Armstrong yang membantah pernyataan miring itu

Dalam beberapa kasus, kita tidak bisa menggeneralisir bahwa setiap orang yang melakukan poligami dilakukan atas dasar hawa nafsu sebab ada banyak kasus dan sebab lain mengapa orang berpoligami.  Oleh karena itu, jika kita menilai bahwa setiap tindakan poligami itu karena masalah syahwat belaka hal tersebutbukanlah tindakan yang  fair.

Kalaupun memang karena hawa nafsu bukankah nikah adalah ibadah yang melibatkan hawa nafsu serta dorongan seksual? Justru karena itu islam hadir untuk mengatur serta diadakannya institusi pernikahan.

Hikmah Poligami

Ketika Allah menurunkan suatu hukum pastilah meninggalkan hikmah. Tinggal  sejauh mana akal kita mampu mencerna dan melihat hikmah itu. Kemampun mencerna dan melihat itu sendiri bergantungbpada kemajuan dan kemunduran berpikir kita. Selain itu, untuk memahami hukum Allah tidak dicukup dengan hanya menghadirkan akal. Kita juga perlu menghadirkan keimanan didalam hati kita.  Sebab  tanpa adanya keimanan didalam  hati hanya akan menghadirkan kesinisan akan hukum Allah. Sehingga Allah tidak akan memperkenankan kita untuk melihat apa yang ada dibalik tabir hikmah Nya tersebut.

Jadi apa saja hikmah dari poligami? berikut ini penjelasannya :

Pertama: Terkadang poligami harus dilakukan dalam kondisi tertentu. Misalnya jika istri sudah lanjut usia atau sakit, sehingga kalau suami tidak poligami dikhawatirkan dia tidak bisa menjaga kehormatan dirinya.  Dan sekarang banyak kita jumpai banyak pasutri yang terjangkit penyakit seksual menular karena mereka menyalurkan ‘kebutuhan’ mereka dengan cara yang salah.

Kedua: Poligami merupakan sebab terjaganya (kehormatan) sejumlah besar wanita, dan terpenuhinya kebutuhan (hidup) mereka, yang berupa nafkah (biaya hidup), tempat tinggal, memiliki keturunan dan anak yang banyak, dan ini merupakan tuntutan syariat.

Syariat poligami justru memposisikan wanita sebagai makhluk yang berharga yang bukan hanya sebatas di pakai kemudian ditinggalkan begitu saja. Ketika kita mencintai orang tersebut maka hargailah dengan cara menikahinya, menafkahinya , dan menaunginya.

Adanya lokalisasi dan prostitusi, bukankah merupakan hal yang merendahkan derajat serta martabat wanita? Dengan berpoligami bisa menjadi alat untuk menyelamatkan kaum wanita dari bahaya bahaya tersebut.

Ketiga :  Terkadang setelah menikah ternyata istri mandul, sehingga suami berkeinginan untuk menceraikannya, maka dengan disyariatkannya poligami tentu lebih baik daripada suami menceraikan istrinya.

Keempat: Banyaknya peperangan dan disyariatkannya berjihad di jalan Allah, yang ini menjadikan banyak laki-laki yang terbunuh sedangkan jumlah perempuan semakin banyak, padahal mereka membutuhkan suami untuk melindungi mereka. Maka dalam kondisi seperti ini poligami merupakan solusi terbaik.

Dan masih ada banyak hikmah-hikmah lain dari poligami…

Mengutip ucapan ustadz oemar mita dalam sebuah ceramahnya “Apabila seorang hamba belum mampu menerima suatu hukum Allah janganlah mencela apalagi menentangnya. Apabila seorang hamba sudah berani menyalahkan hukum Allah. Lalu siapa Dzat yang paling benar diatas muka bumi ini?”

Referensi :

Majalah Hidayatullah. Edisi Aibmu Auratmu. November 2017.