Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, sahabat as shidiq aqiqah.

Dalam sebuah hadits qudsi, Musnad Al Imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda ,

“Tidak ada satu hari pun yang berlalu melainkan laut meminta izin kepada Rabbnya untuk menenggelamkan Bani Adam. Para malaikat juga meminta izin kepada Nya untuk segera menangani dan mematikan mereka. Sementara Allah berfirman ,” Biarkanlah hamba Ku. Aku lebih tahu tentang dirinya ketika Aku menciptakannya dari tanah. Andaikan ia hamba kalian, maka urusannya terserah kalian. Karena ia hamba Ku , maka ia berasal dari Ku dan urusannya terserah kepada Ku…..” (Dalam Madarijus Salikin , Imam Ibnu Al Qayyim )

Tak satupun kejadian alam terjadi diluar kehendak Allah. Tak ada satupun ketetapan Allah terjadi untuk main-main. Dalam sebuah ayat Qur’an Allah Ta’ala berfirman :

“..dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)”(QS 6 : 59).

Daun berguguran yang terlihat sepele bagi kita nyatanya telah Allah tetapkan ketentuannya. Apalagi dengan perkara yang lebih besar kejadiannya.

Sebagai hamba Nya tugas kita adalah mengambil ibrah (pelajaran) dari peristiwa yang terjadi.
Terutama ibrah dalam masalah mempersiapkan kematian.

Sebab Kematian adalah hal yang paling dekat dengan kita tapi seringkali kita lalai hingga ia jauh dari pemikiran dan persiapan kita.

Oleh karenanya, Imam Hasan Al Basri telah mengingatkan kita jauh- jauh hari tentang kematian.

Dahulu Hasan Al Basri pernah mengantar jenazah.

Disampingnya terdapat seorang pria. Ia lalu bertanya kepada pria tersebut, “bagaimana jika jenazah ini bangun apa yang akan ia kerjakan ?”

Pria itu lantas menjawab, “jika jenazah ini dapat kembali hidup ia pasti akan langsung salat, puasa, mengaji dan mengerjakan amal saleh lainnya.”

Hasan Al Basri menjawab “Benar ! itu yang akan dilakukannya, tapi sayang jenazah ini tidak bisa hidup lagi. Sekarang apa yang akan dilakukan jenazah ini itu yang harus kau lakukan sebelum seperti jenazah ini,”

Demikian bijak Nasihat Imam Hasan Al Basri tentang kematian.

Kita harus menyegerakan diri untuk beramal sebelum datangnya kematian.

Alasannya rasional sebab seseorang baru mengetahui nilai sebuah ibadah setelah ia mati. Saat hidup ia diberi kemampuan untuk mengerjakan amal tapi ia tidak diperkenankan untuk melihat balasannya. Sedangkan saat mati ia diperkenankan untuk melihat balasan amalnya namun ia tidak diberi lagi kemampuan untuk mengerjakannya.

Dari sini, Yuk mari kita mengaji !

Mengenali kembali Dzat yang sebelumnya kita kenal saat kita masih dalam bentuk ruh. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’ (QS. 7:172)

Referensi :

Al Jauziyah, Ibnu Qayyim. 1998. Madarijus Salikin. Jakarta : Al Kautsar.