Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat As Shidiq Aqiqah.

Pada tulisan sebelumnya kami telah membahas mengenai Juraij, seorang ahli ibadah yang di doakan keburukan pada ibunya. Berangkat dari kisah tersebut apa pelajaran yang dapat kita petik? berikut pemaparannya :

Pertama, Seorang anak harus berhati-hati dengan kemarahan orang tuanya. Karena jika ia sampai membuat orang tua marah dan orang tua mendoakan jelek, maka itu adalah do’a yang mudah diijabah.

Kedua, seorang orangtua haruslah berhati-hati dengan ucapannya pada si anak. Sebab doa orangtua kepada anak adalah doa yang mustajab. Jangan pernah mendoakan kebinasaan terhadap orang lain apalagi anak sendiri. Sekalipun orang ataupun anak itu menganiaya kita. Serahkanlah semua itu pada Allah. Dalam kitab Maraqi Al Ubudiyyah, Syekh Nawawi Albantani. Dalam sebuah hadits disebutkan,

“Seorang yang teraniaya mendoakan kebinasaan bagi orang yang menganiayanya mempunyai kelebihan padanya yang ia tuntut pada hari kiamat .”

Ketiga, Pentingnya menjaga lisan. Sebab mulut memiliki sebuah kekuatan besar yang dapat dengan mudahnya menaikkan ataupun menghancurkan pamor seseorang.

Keempat, Habib Umar Al Hafidz mengatakan ,”Dari kisah Juraij kita belajar bahwa Raja di Zaman dahulu begitu mementingkan akhlak dan moral rakyatnya. Mendengar seorang wanita hamil tanpa seorang ayah adalah tindakan yang melanggar hukum di masa tersebut.” Di zaman sekarang kita melihat perbuatan zinah sebagai hal yang biasa. Asal suka sama suka hal itu tidak masalah. Naudzubillah…

Kelima, Dari Juraij kita belajar pentingnya untuk menjalin ketaatan dengan Allah sedari dahulu. Kealiman Juraij tidak didapatkan secara instan tapi dibentuk dari lama. Buah daripada kelimannya adalah rasa sabar dengan ujian yang Allah timpakan padanya. Selain itu, cara pandang seorang yang alim dengan ahli maksiat pastilah berbeda dalam melihat musibah yang menimpa dirinya. Seorang alim akan Allah berikan cahaya dalam hatinya. Sehingga ia akan melihat dengan pandangan hikmah. Hal itu dapat dilihat dari kisah itu ditutup dengan dialog “

Raja lalu bertanya, “Mengapa engkau tersenyum?” Juraij menjawab, “(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal itu kepada mereka.”

Ya, Juraij tidak marah atas musibah yang ia terima dari Allah. Justru ia kagum dengan kebesaran Allah. Karena betulah bahwa doa orang tua kepada anaknya adalah doa yang dijabah Allah.

Itu hikmah dari Kisah Juraij dan Doa Buruk Ibunya. Menurut sahabat hikmah apalagi yang bisa petik? Silahkan komen dibawah ya

Referensi :

https://www.youtubedotcom/watch?v=Gd0pC4skFkQ