Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, sahabat as shidiq aqiqah.

Sebagian orang menganggap ucapan “Merry Christmas” tidaklah bermasalah. Namun hal ini menjadi masalah yang besar, ketika seorang muslim yang mengucapkannya terhadap perayaan orang-orang non muslim tersebut . Ucapan ini bagi sebagian umat muslim dianggap merupakan sebagai bagian dari bentuk toleransi beragama.

Patut diketahuia, pada dasarnya islam adalah agama yang mengajarkan  betul arti toleransi dalam beragama. Akan tetapi ada kaidah-kaidah tertentu yang harus kita pahami. Adanya  kaidah-kaidah itu sendiri berfungsi untuk mengatur agar umat muslim paham betul batasan dalam bertoleransi yang dapat dilakukan sampai sejauh mana. Tanpa adanya kaidah, standar benar salahnya suatu perbuatan pasti akan terasa abstrak.

Oleh karena itu, Jumhur ulama bersepakat bahwa  bentuk toleransi yang diajarkan oleh islam adalah dengan membiarkan saja umat non muslim berhari raya tanpa turut serta dalam acara mereka, termasuk tidak perlu ada ucapan selamat. Dikutip dari muslim.ordotid, berikut ini adalah alasan dilarangnya umat muslim mengucapkan natal :

1- Bukanlah perayaan kaum muslimin

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin hanya ada 2, yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul Adha.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri” (HR. Ahmad, shahih).

Sebagai muslim yang ta’at, cukuplah petunjuk Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.

2- Menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal

Ketika ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda.

Nah,begitu juga dengan seorang yang muslim mengucapkan selamat natal kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkannya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish shalatu wa sallam. Dan mereka menganggap bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan mereka. Bukankah hal ini adalah kekufuran yang sangat jelas dan nyata?

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6).

3- Merupakan sikap loyal (wala) yang keliru

Loyal (wala) tidaklah sama dengan berbuat baik (ihsan). Wala memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itu, para kekasih Allah juga disebut dengan wali-wali Allah.

Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar di lisan saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan oarang kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah: 4)

4- Nabi melarang mendahului ucapan salam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167).

Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.

5- Menyerupai orang kafir

Tidak samar lagi, bahwa sebagian kaum muslimin turut berpartisipasi dalam perayaan natal. Lihat saja ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan pusat perbelanjaan. Sebagian dari kaum muslimin ada yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum  muslimin untuk menyerupai kaum kafir.

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Sebagai penutup dalam sebuah ayatNya Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”.” (QS. Al-Maidah: 73)

Dalam ayatNya tersebut Allah mengecam mereka yang menganggap Allah itu memiliki anak. Jika Dzat yang memiliki kuasa atas ruh, jasad dan nasib kita mengecam bukanlah suatu hal yang etis bila kita memberi ucapan kepada sesuatu yang dikecamNya tersebut. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,” Sesungguhnya Allah pencemburu, dan sungguh seorang mukmin juga pencemburu, kecembruan Allah adalah jika seorang mukmin melakukan sesuatu yang telah diharamkan kepadanya.” (HR Ahmad No 10508)

Jangan buat Allah cemburu ya sahabat ! Demikian tulisan hari ini semoga bermanfaat.

Referensi :

https://muslim.ordotid/11051-alasan-terlarangnya-mengucapkan-selamat-natal-bagi-muslim.html