Sahabat As Shidiq Aqiqah,

Mungkin sebagian kita ada yang bertanya-tanya. Apakah Rasulullah ketika melakukan perjalanan Isra Miraj betul-betul pergi dengan jasadnya atau ruhnya atau hanya melalui mimpinya?

Dikutip dari Harakah Islamiyah, Menurut al-Qusyairi dalam Kitab al-Mikraj, adalah bahwa mikrajnya Nabi ke langit adalah sebuah perjalanan fisik. Beliau diperjalankan dari Mekah ke Baitul Maqdis dengan jasadnya. Hal ini didasarkan dari makna lahir firman Allah swt., Subhanalladzi asraa bi’abdihi…(Qs. Al-Isra’: 10)

Makna lahir dari lafadz “usriya bihi” adalah makna hakiki; diperjalankan. Andaikan dimaknai dengan “mimpi” maka ia meninggalkan makna lahirnya yang mana tidak ada dalil yang menunjukkan untuk memindah makna lafal “usriya bihi” dari makna lahir ke makna batin.

Di sisi lain, ayat-ayat lain tentang isra-nya Nabi menunjukkan bahwa perjalanan Nabi ke langit ketujuh adalah perjalanan fisik. Mikraj sebagai sebuah perjalanan fisik di sini juga dikuatkan dengan ayat-ayat lain. Misalnya “linuriyahu min ayatina” (Qs. al-Isra’: 1). Penggunaan lafal “linuriyahu” dalam tata bahasa Arab menunjukkan makna dalam keadaan sadar atau terjaga. Bukan dalam mimpi.

Lalu bagaimana dengan hadis-hadis Nabi tentang mikraj-nya beliau yang menggunakan redaksi “ru’yan”? Imam al-Qusyairi menjawab bahwa hadis tersebut dimaknai sebagai sebuah gambaran awal kedatangan malaikat Jibril saat menemui Nabi yang sedang dalam keadaan tertidur yang kemudian Nabi terbangun.

Kapan terjadinya Isra-Mikraj?

Imam al-Qusyairi menjawab, terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan Nabi diperjalankan ke langit ketujuh. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa mikraj-nya Nabi terjadi enam bulan sebelum beliau hijrah ke Madinah. Dalam riwayat Musa bin ‘Uqbah disebutkan satu tahun sebelum hijrah. Mayoritas riwayat sahih menyebutkan bahwa mikrajnya Nabi terjadi sebelum beliau menerima wahyu

Referensi :

https://www.instagramdotcom/harakahislamiyah/
.