Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat As Shidiq Aqiqah.

Ketika seseorang ditimpa sakit sebagian besar  mungkin akan memiliki persepsi negatif terhadap saudarnya. Ada yang dengan mudahnya memvonis bahwa sakit yang ditimpa saudaranya tersebut disebabkan oleh maksiatnya. Mungkin ada benarnya tetapi juga bisa banyak salahnya. Sebab Nabi Ayyub pun pernah Allah timpakan sakit yang berat. Padahal Nabi Ayyub adalah seorang yang soleh dan sabar. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah pernah mengatakan bahwa hati penghuni surga akan seperti hatinya Nabi Ayyub,

“Mereka dibangkitkan di usia antara bayi dan manusia tua di hari kiamat, sama dengan bentuk Adam, berhati Ayub, dan setampan Yusuf. Masih muda dan bercelak. ( as-Silsilah as-Shahihah (no. 2512)

Berangkat darisini, Agar kita dengan tidak mudahnya memvonis seseorang maka patut diketahui bahwa didalam islam sakit itu sendiri  memiliki tiga makna.

Pertama, sebagai penggugur dosa

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, ,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Kedua, Untuk meningkatkan derajatnya disurga

Ada tingkatan iman yang tidak bisa dicapai oleh seorang hamba dengan amalnya. Ia hanya akan mencapainya dengan ujian dan cobaan. Allah berkehendak untuk meningkatkan imannya maka Allah pun menetapkan ujian dan menolongnya untuk bersabar dan teguh menghadapinya. Jadi, ini merupakan rahmat dariNya bagi sang hamba.

Oleh karena itu telah ada hadits shahih dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba, apabila pernah memiliki kedudukan dari Allah, yang tidak ia peroleh dengan amalannya maka Allah mengujinya pada jasadnya, harta atau pada anaknya.” (HR Abu Daud No 3090 Versi Baitul Afkar Ad Dauliah)

Demikian tegas hadits diatas bahwa sakit bisa menjadi sebab sang hamba  Allah tingkatkan derajatnya di surga kelak. Sebab bisa saja si hamba berdoa meminta pada Allah agar dimasukkan ke surga tertinggi yakni surga Firdaus agar dapat berkumpul bersama Rasulullah akan tetapi amalannya tersebut belum mampu untuk mengangkatnya. Maka Allah timpakanlah musibah pada jasadnya tersebut.

Ketiga, Allah ingin memberinya pahala yang lebih besar dari pahala jihad yakni sabar

Dalam kitab Nashoihul Ibad, Syekh Nawawi Albantani, Patut diketahui bahwa sabar itu terdiri dari tiga hal : Sabar dalam ketaatan, sabar dalam menahan diri dari maksiat, dan sabar saat ditimpa musibah.

Dalam sakit seseorang dituntut akankah mampu sabar ketika ditimpa musibah. Dan dalam musibahnya tersebut si hamba akan Allah uji apakah ia masih akan tetap taat pada Nya atau tidak. Sebab saat sakit seseorang akan seringkali di uji oleh Allah, apakah dia akan menggunakan jalan yang haq atau bathil untuk mengobati penyakit tersebut? jalan yang diridhoiNya atau jalan kesyirikan?

PAHALA SABAR

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada hitungannya.” (Az Zumar: 10)

Bahkan dalam sebuah hadits, kitab Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi Al Bantani hal 164, Rasulullah pernah bersabda,

Pada Hari Kiamat Kelak, Mizan ( timbangan amal) akan diletakkan, lalu :

  1. Dipersilahkan pada ahli shalat maka dengan timbangan itu pahala mereka diberikan secara sempurna.
  2. Dipersilahkan pada ahli sedekah maka dengan timbangan itu pahala mereka diberikan secara sempurna.
  3. Dipersilahkan pada ahli puasa maka dengan timbangan itu pahala mereka diberikan secara sempurna.
  4. Kemudian dipersilahkan kepada ahli musibah (orang-orang yang sabar menghadapi musibah), namun ternyata amal mereka tidak ditimbang dan catatan amal mereka juga tidak diperiksa. Mereka diberi pahala tanpa dihisab hingga ahlu al- afiyah (orang – orang yang selalu mendapatkan keselamatan) berharap mendapat kedudukan yang sama dengan ahli musibah karena banyaknya pahala dari Allah Ta’ala.

Derajat Orang Sabar Dalam Kuburnya

Selain itu dalam Riwayat Abu Bakar At Taimi, dijelaskan Aku bertanya ,“Engkau orang yang paling utama di pemakaman ini?’ Dia menjawab, ‘ Mereka berkata demikian.’ Aku bertanya, ‘ Dengan apa engkau mendapatkan kedudukan itu? ‘ Demi Allah, aku tidak melihat kepantasan bagimu di usia yang demikian muda?’ ‘Apakah engkau mendapatkannya karena haji yang lama, umrah, jihad di jalan Allah, atau amal lain?’ Dia pun menjawab, ‘Aku diuji Allah dengan berbagai macam cobaan, tetapi aku diberi kesabaran untuk menghadapinya. Dengan begitu, aku lebih utama dari mereka.’ (Dalam buku Ibnu Qayyim Al Jauzy. Perjalanan Ruh. 2018. Jakarta : Noura)

Inilah nikmatnya menjadi seorang muslim. Kita menjadi tahu faedah dari segala musibah yang kita alami. Tugas kita sebagai seorang Muslim hanya tinggal selalu menghadirkan niat dan mengharapkan pahala dalam setiap musibah yang dialami, baik yang kecil maupun besar.

Memang betul… bersabar bukanlah hal yang mudah tapi akan lebih sulit lagi bila kita harus kehilangan pahala sabar bukan? Demikian tulisan hari ini semoga bermanfaat.

Referensi :

https://www.instagramdotcom/mtardiyanto/

https://muslim.ordotid/547-rahasia-sakit.html

https://konsultasisyariahdotcom/31237-ciri-fisik-penduduk-surga.html