Sahabat As Shidiq Aqiqah ,

Sebelumnya kita perlu membedakan antara budak dengan pembantu atau buruh. Budak, jiwa dan raganya milik majikannya, sehingga apapun yang dimiliki budak ini, menjadi milik majikannya. Dia tidak bisa bebas melakukan apapun, kecuali atas izin si majikan. Seratus persen berbeda dengan pembantu. Hubungan seorang pembantu dengan majikan, tidak ubahnya seperti pekerja yang sedang melakukan tugas untuk orang lain, dengan gaji sebagaimana yang disepakati. Muamalah antara pembantu dengan majikan adalah ijarah (sewa jasa). Sehingga seharusnya, beban tugas yang diberikan dibatasi waktu dan kuantitas tugas. Lebih dari batas itu, bukan kewajiban pembantu atau buruh.

Mohon maaf, di tulisan ini kami menggunakan kata majikan dan pembantu atau buruh. Meskipun istilah ini kurang bisa mewakili struktur tugas antara bawahan dengan atasan, namun kami kesulitan untuk mendapatkan padanannya.

Dikutip dari konsultasisyariahdotcom, berikut ada hak buruh dalam islam :

  1. Tidak diberi pekerjaan secara berlebihan. Dalilnya sebagai berikut “Janganlah kalian membebani mereka (budak), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka.” (HR. Bukhari no. 30)
  2. Diberi gaji tepat waktu dan sesuai akad. Dalilnya sebagai berikut “Berikanlah upah pegawai (buruh), sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan al-Albani).
  1. Dilarangnya menzalimi buruh. Dalilnya sebagai berikut “Ada tiga orang, yang akan menjadi musuh-Ku pada hari kiamat: … orang yang mempekerjakan seorang buruh, si buruh memenuhi tugasnya, namun dia tidak memberikan upahnya (yang sesuai).(HR. Bukhari 2227 dan Ibn Majah 2442)
  1. Berpahala bagi majikan jika meringankan pekerjaannya. Dalilnya sebagai berikut, “Keringanan yang kamu berikan kepada budakmu, maka itu menjadi pahala di timbangan amalmu.” (HR. Ibn Hibban dalam shahihnya dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Syuaib al-Arnauth)
  2. Tidak bersikap kasar. Dalilnya sebagai berikut. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak pernah memukul dengan tangannya sedikit pun, tidak kepada wanita, tidak pula budak.” (HR. Muslim 2328, Abu Daud 4786).
  1. Memiliki Kedudukan Yang Setara Di Hadapan Allah. “Saudara kalian adalah budak kalian. Allah jadikan mereka dibawah kekuasaan kalian.” (HR. Bukhari no. 30)

Masya Allah betapa luar biasanya bukan bagaimana islam memperhatikan hak pekerja. Kalau ini semua bisa diterapkan secara kaffah. Insya Allah pasti akan membawa dampak yang positif bagi majikan maupun buruhnya tersebut. Baik dari segi loyalitas pekerja terhadap majikannya dan segi keuntungan yang akan didapat dari majikannya dari loyalitas pekerjanya tersebut. Demikian tulisan kami pada hari semoga bermanfaat !

Referensi :

https://konsultasisyariahdotcom/14145-hak-buruh-dalam-islam.html