Assalammulaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, sahabat as shidiq aqiqah

 Indonesia kembali berduka gelombang tsunami di kawasan lampung dan banten pada bulan desember 2018 telah memakan cukup banyak  korban jiwa. Begitu banyak korban yang tewas dalam musibah tsunami ini, apakah orang yang mati tenggelam itu terhitung syahid?

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,

“Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ‘azza wa jalla itu ada tujuh orang, yaitu korban wabah adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan (dalam keadaan nifas atau dalam keadaan bayi masih dalam perutnya, pen.) adalah syahid.” (HR. Abu Daud, no. 3111. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat keterangan ‘Aun Al-Ma’bud, 8: 275)

Pertama-tama apakah yang dimaksud dengan syahid itu? ulama kita Ibnu Hajar mengatakan yang dimaksud dengan syahid adalah malaikat menyaksikan bahwa mereka mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir hidup yang baik). (Lihat Fath Al-Bari, 6: 43)

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, mengatakan bahwa mati syahid itu terbagi menjadi tiga macam yakni:

Mati syahid di jalan Allah ada beberapa macam:

  1. Syahid di dunia dan akhirat
  2. Syahid di dunia, namun bukan syahid di akhirat
  3. Syahid di akhirat, namun bukan syahid di dunia

Syahid di dunia dan akhirat, akan mendapatkan pahala syahadah (yang sempurna). Orang yang dihukumi sebagai syahid di dunia dan akhirat adalah orang yang gugur dalam perang dalam, keadaan sedang maju bukan sedang kabur, dalam rangka menegakkan kalimat (agama) Allah. 

Syahid di dunia adalah orang yang gugur dalam perang, dalam keadaan maju bukan kabur, namun niatnya bukan dalam rangka menegakkan kalimat (agama) Allah. Maka di dunia ia dihukumi sebagai syahid secara zahirnya. Namun di akhirat, di sisi Allah, ia tidak mendapatkan pahala syahid.

Adapun syahid di akhirat yang bukan syahid dunia, ia diperlakukan di akhirat kelak sebagaimana orang yang mati syahid dan mendapatkan pahala syahid. Adapun di dunia, jenazahnya tetap dimandikan, dikafankan, dishalati, dan jenazahnya diperlakukan sebagaimana jenazah kaum Muslimin pada umumnya. Yang termasuk jenis ini di antaranya:

  • Al Mabthun, orang yang meninggal karena penyakit di perutnya
  • Al Ghariq (orang yang mati tenggelam)
  • Al Hariq (orang yang mati terbakar)
  • Orang yang sakit dzatul janbi (semacam penyakit paru-paru)
  • Wanita yang meninggal ketika nifas
  • Al Gharib, orang yang meninggal jauh di luar daerah tempatnya tinggal sehingga ia asing di sana

Asalkan Tenggelam Sudah Disebut Syahid ataukah Tidak?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, ada orang yang menaiki kapal dengan maksud pergi berdagang kemudian tenggelam, apakah ia dikatakan mati syahid? Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan jawaban, ia termasuk syahid selama ia tidak bermaksiat ketika ia naik kapal tadi.

Bagi para korban tsunami yang tenggelam, di mana pun mereka, apakah mendapat pahala syahid? Kesimpulannya berpulang pada diri mereka masing-masing. Apakah mereka dalam rangka ketaatan atau kemaksiatan kepada Allah . Sebab manusia hanya akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang ia niatkan. Namun, tetap kita doakan semoga kaum Muslimin yang meninggal tenggelam, husnul khatimah. Tak lupa kita berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga Allah karuniakan bagi kita syahadah fie sabilillah,

“Barangsiapa yang memohon syahadah (mati syahid) dengan jujur, maka dia akan diberikan (pahala) syahadah meskipun dia tidak mati syahid.” (HR. Muslim No 3532).

demikian tulisan pada hari ini semoga bermanfaat !

Referensi :

https://rumayshodotcom/15121-mati-syahid-karena-melahirkan-dan-tenggelam.html

https://muslim.ordotid/26616-beberapa-jenis-mati-syahid-di-jalan-allah.html