Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat As Shidiq Aqiqah.

Imam Syafi’i pernah memerah wajahnya saat ditanya mengapa hukuman bagi pezinah amat berat? Kemudian beliau menjawab dengan mata yang memerah, “Zina adalah dosa yang bala’ akibatnya mengenai semesta keluarganya, tetangganya, keturunannya hingga tikus di rumahnya dan semut di liangnya.”

Ia ditanya lagi, “Dan mengapa, Allah berfirman pula, ‘Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang – orang yang beriman’, bukankah untuk pembunuh, si murtad, pencuri Allah tak pernah mensyaratkan menjadikannya tontonan?”

Janggut Asy-Syafi’i telah basah, bahunya terguncang – guncang. “Agar menjadi pelajaran.”

Ia terisak, “Agar menjadi pelajaran.”

Ia tersedu, “Agar menjadi pelajaran.”

Ia tergugu. Lalu ia bangkit dari duduknya. Matanya kembali menyala, “Karena ketahuilah oleh kalian. Sesungguhnya zina adalah hutang-hutang, sungguh hutang dan salah seorang dalam nasab pelakunya pasti harus membayarnya!”

Mengapa Zinah Hutang Yang Harus Dibayar ?

Dalam sebuah ceramahnya Ustadz Oemar Mita mengatakan,  “Zina itu bukan dosa kecil, tapi dosa besar oleh karenanya lahirlah kata-kata hikmah zina itu hutang dan cara membayarnya melewati anak-anaknya. keturunannya, sesungguhnya zina itu balanya terkena kepada seluruh keluarga orang yang berzina. Zina itu hutang sama dengan kedholiman dan kedholiman itu hutang yang harus dibayar entah didunia atau diakhirat”

Hukuman Bagi Pezina Dalam Islam

Apabila pezina tersebut adalah orang yang sudah menikah, baik duda atau janda, maka hukumannya adalah hukuman rajam (dilempari batu sampai mati) sedangkan bagi perjaka atau perawan dengan cambukan sebanyak 100x.

Dari ‘Ubâdah bin ash-Shâmit Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Ambillah dariku, ambillah dariku. Allâh telah menetapkan ketentuan bagi mereka; Perjaka yang berzina dengan perawan (hukumannya) dicambuk seratus kali dan dibuang selama setahun, dan laki-laki yang sudah pernah menikah (yang berzina) dengan perempuan yang sudah pernah menikah (hukumannya) adalah dicambuk seratus kali dan dirajam.” (HR Ahmad)

Status Anak Hasil Zinah

Adapun “hutang” yang harus ditanggung oleh si anak akibat perbuatan zinah kedua orangtuanya yakni :

Pertama, anak hasil zina (anak di luar nikah) tidak dinasabkan ke bapak biologis.

Anak zina pada asalnya dinasabkan kepada ibunya sebagaimana anak mula’anah dinasabkan kepada ibunya. Sebab keduanya sama-sama terputus nasabnya dari sisi bapaknya (lihat Al Mughni: 9:123).

Kedua, tidak berhak menerima harta warisan.

Tidak ada hubungan saling mewarisi antara bapak biologis dengan anak hasil zina. Karena sebagaimana ditegaskan sebelumnya, bapak biologis bukan bapaknya. Memaksakan diri untuk meminta warisan, statusnya merampas harta yang bukan haknya

Ketiga, Siapa yang menjadi wali nikahnya?

Seandainya anak yang pertama laki-laki, lalu lahir kemudian adiknya perempuan, maka dia tidak bisa menjadi wali nikah bagi adik-adiknya karena tidak ada hubungan nasab. Mereka hanya saudara seibu saja. Bila anaknya perempuan mau menikah, maka walinya bukan ayahnya tersebut. Sehingga, harus melalui wali hakim.

Jadi, Itulah mengapa zinah adalah hutang yang harus dibayar. Sebab zinah adalah bentuk kezholiman. Dan tindakan kezholiman akan menyebabkan pelakunya celaka. Hal yang paling pertama kali celaka ketika seseorang berzinah adalah harga dirinya. Kedua, mencelakai kehormatan keluarganya maupun keluarga pasangan yang dizinahinya tersebut. Ketiga, berimbas pada hukum sosial yang berlaku dimasyarakat. Keempat, kalau sampai ia mengandung, maka anak akibat hasil zinahnya tersebut  akan menanggung malu akibat perbuatan orang tuanya tersebut.   Keempat, adalah hukum islam yang amat berat bagi pelakunya. Jika ia adalah seorang perjaka/perawan harus dicambuk hingga 100x dan dipersaksikan oleh banyak orang. Apabila ia adalah yang tengah menikah, duda/janda maka ia harus dirajam (yakni badan dikubur ke tanah hingga menyisakan kepala) dan ditimpuk batu hingga mati.

Demikian tulisan untuk hari ini semoga bermanfaat !

Referensi :

https://www.islamposdotcom/imam-syafii-dan-aku-pun-menangis-23024/
https://www.instagramdotcom/p/BsfdbPDBXaI/
https://almanhaj.ordotid/4280-zina-bahaya-dosa-dan-hukumnya.html
https://konsultasisyariahdotcom/10578-anak-di-luar-nikah.html
http://bangka.tribunnewsdotcom/2018/06/10/ustaz-abdul-somad-beber-selain-tak-berhak-warisan-anak-hasil-zina-juga-sulit-urusan-menikah?page=4