Sahabat as shidiq aqiqah, aqiqah adalah sunnah yang shahih dari Rasulullah. Menghidupkan  sunnah adalah sesuatu yang menjadi tuntutan atas setiap muslim. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap muslim yang mampu melaksanakannya untuk menjaga dan memelihara aqiqah ini. Lalu bagaimana yang tidak mampu? bolehkah ia sampai harus hutang aqiqah ?

Sebagian ulama mengatakan bahwa aqiqah juga disyariatkan kepada orang miskin yang tidak memiliki biaya untuk pelaksanaannya. Bahkan Imam Ahmad memandang disunnahkannya meminjam uang bagi orang yang tidak mampu untuk membeli hewan aqiqah dan menyembelihnya sebagai upaya menghidupkan as sunnah. Ada beberapa pernyataan beliau mengenai hal ini, antara lain :

  • Al Khallal menukilkan dalam riwayat Abul Harits, beliau ditanya tentang seseorang yang meminjam uang untuk pelaksanaan aqiqah. Beliau menjawab, “Semoga Allah memberi gantinya. Dia telah menghidupkan as Sunnah.”
  • Putra beliau bernama shalih bertanya, “Seseorang memperoleh anak, tapi tidak memiliki uang untuk aqiqah. Menurut pendapat anda mana yang yang lebih disukai, meminjam atau menunda aqiqahnya hingga memiliki uang yang cukup? Beliau menjawab, “Aku berharap apabila dia meminjam uang, semoga Allah segera melunasinya. Sebab, dia sedang menghidupkan salah satu sunnah Rasulullah dan mengikuti petunjuk beliau.” (Tuhfatul Maudud hal, 50-51)

Ibnul Qayyim mengomentari pernyataan Imam Ahmad dengan mengatkan, “Hal ini dikarenakan aqiqah adalah sunnah dan ritual yang disyariatkan berkat adanya pembaharuan karunia Allah kepada kedua orangtua. Pada aqiqah tersimpan hikmah terpendam tentang tebusan nabi Ismail dengan seekor domba. Hal itu menjadi sunnah yang diwariskan secara turun temurun. Setiap orang dari mereka mengucapkan nama Allah ketika meletakkan sperman di dalam rahim sebagai upaya perlindungan dari gangguna setan.”

PENDAPAT LAIN MENGENAI HUTANG AQIQAH

Ibnu Haj Al Maliki mengatakan, “Para ulama kami rahimahullah mengatakan tetang seseorang yang hanya memiliki satu perangkat untuk shalat Jumat dan tidak ada yang lain, ‘Hendaknya menjual baju tersebut untuk melaksanakan qurban. Demikian juga dia boleh menjual boleh menjualnya untuk melaksanakan aqiqah anaknya. ‘Mereka juga mengatatakan,”Boleh meminjam uang untuk melaksanakan qurban. Demikian juga boleh meminjam uang untuk melaksanakan aqiqah. Hukumnya sama.” (Al Madkhal 3/229)

Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu:

“Dan adapun meminjam uang untuk keperluan aqiqah maka dilihat, kalau dia berharap bisa mengembalikan seperti seorang pegawai misalnya, akan tetapi ketika waktu aqiqah dia tidak memiliki uang, kemudian dia meminjam uang sampai datang gaji maka ini tidak mengapa, adapun orang yang tidak punya sumber penghasilan tetap yang dia berharap bisa membayar hutang dengannya maka tidak selayaknya dia berhutang.” (Liqa Al-Babil MaftuhAl-Maktabah Asy-Syamilah)

Ibnu Haj Al Maliki mengatakan, “Sungguh mengherankan orang yang mengaku dirinya tidak mampu dan menjadikannya sebagai alasan untuk tidak melaksanakan aqiqah, padahal untuk berbagai pesta yang mereka adakan memerlukan biaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya aqiqah. Salah satu bentuk pesta tersebut adalah dengan membuat kue tart pada hari ketujuh kelahiran atau membelinya dan memiliki berbagai penganan yang membutuhkan biaya berkali kali lipat dari harga seekor hewan aqiqah. Ini mereka lakukan pada hari ketujuh kelahiran walaupun biaya yang cukup besar untuk sesuatu yang tidak memiliki alasan syar’i.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Barang siapa yang tidak memiliki dana untuk melaksanakan qurban atau aqiqah, silahkan meminjam uang untuk melaksanakannya dengan catata memiliki kesanggupan untuk mengembalikan pinjaman tersebut.”

Kesimpulan Hutang Aqiqah

Kalau ayah bunda memiliki keyakinan sanggup membayar hutang ketika ingin beraqiqah itu tidaklah mengapa. Misal ayah dan bunda yakin dapat membayar karena sudah memiliki pekerjaan tetap / penghasilan tetap tetapi kebetulan mungkin uang sedang terpakai yang lain jadi perlu berhutang.

Adapun aqiqah itu sendiri tidak harus dirayakan yah ayah bunda…  jadi jangan sampai memberatkan ayah bunda. Dalam bentuk nasi box yang siap dibagikan tidak apa apa itu sudah sesuai sunnah.

Baca Juga

Memahami Maksud Hadits “Setiap Anak Tergadaikan Pada Aqiqahnya”
Aqiqah pintu pertama harapan keselamatan akhirat 
Aqiqah ketika dewasa apa masih bisa? bagaimana hukum fiqihnya?